Wednesday, May 23, 2007

Ketika Rindu Merajai Musim….


Bag. 1
Mungkin Jalan Sedang Buta

Kutapaki butir-butir kerikil di tanah itu
Satu demi satu terhempas mengudara
Melayang tak tentu lalu jatuh ke tanah
Angin berarak menyapa tanah
Mengajak debu-debu turut menghempas
Bunga itupun tidak diam… ikut menari bersama angin
Mungkin suara itu sedang tak melagu
Mungkin api itu telah padam
Mungkin lorong itu sedang tak bertujuan
Segalanya kosong …
Hanya pekat yang kutemukan…
Dan…. Luka itu terus menjerit…
Kenangan tak berkesudahan membuai…
Hinggap… bersemayam …
Dan…. Hanya kalbu yang meneriakkan rindu
Karena sia-sia itu sudah lama bersemi…
Hanya gelap yang tersisa…

Bag. 2
Dia yang tidak Hidup

Gadis itu hanya memandang kosong
Diam dalam gelap dan hampa tanpa makna
Terpenjara dalam romansa
Dia tertegun: hanya bisu membius
Dia tak hidup : namun nafas masih tergenggam
ruh belum sirna
Dia hanya tidak hidup!
Kini gadis itu berjalan, meniti bayangan
Senyumnya merekah mengingat tawa itu
Kini dia tertunduk: di iris luka
Dan
dia hanya melangkah untuk meniti bayangan
Seongok bayangan yang sudah usang
Diselimuti kabut tua
Waktu mengalir
Hanyutkan hitungan masa…
Detik, detik, berdetak seiring detak jantung
Tak berhenti…
Tak mengerti….
Namun Nafas masih tergenggam
Ruh pun belum sirna
Hanya, dia tidak hidup …!

Bag.3
Harap

Kau tahu ?
Tiada kata seindah untaian itu
Bersembunyi sejuta rindu di dasar hati
Memantulkankembali lukisan waktu lalu
Menggoreskan harapan usang
Mungkin engkau hanya bayangan tak berwujud
Terpantul kembali di bilik ingatan
Kapankan kita bertemu kembali…?
Ah.. Semoga umurku masih panjang…
Dan semoga takdir menurutkan mimpiku
Ke berharap…..

Bag.4
Hadirmu Tak Ku Mengerti

Sayang, aku tak tahu
Apa yang membuat bayangmu mengisi malam-malamku
Apakah suatu cobaan yang harus kuambil hikmahnya ataukah
Suatu petunjuk dari-Nya…Menuju jalan abadi itu
Sayang, cangkir itu telah penuh oleh rindu
Rindu yang tak berwarna, karena tak jua kau meminumnya
Karena tak jua diperbolehkan oleh takdir-Nya
Jika masa itu datang
Entah mengapa aku ingin berlari menjauh
Aku tak mengerti… mungkin yang aku mau hanya bayanganmu, lantas
Mari kita kembali ke masa lalu
Aku tak mengerti…
Aku hanya ingin sendiri mendekap bayangmu
Ketika masa itu datang…. Ketika kau menjadi nyata…
Aku ingin secepatnya berlari menjauh
Mungkin selamanya bayanganmu dan masalalu menjajah diriku
Mengukung kebebasanku
Namun dirimu tidak akan pernah menjajahku
Karena aku mencintai dirim,u di masa lalu… ilusi dirimu
Bukan tubuh nyata yang berdiri di hadapanku !

Bag. 5
Kau yang Maha Sempurna di Kelopak Hatiku

Kau adalah nyanyian pertama yang mendendangkan kebesaran hati
Syahdu mendalam hingga melunakkan bongkahan hati terkecil
Kau adalah bait pertama dalam syair kelapangan jiwa, menyentuh takdir-Nya
Jiwamu putih dalam kesederhanaan namun apimu selalu memancar panas
Setiap rongga gelap pekat yang tak tergapai menanti sinar harap yang nyaris sirna
Engkau mengajarkanku untuk meraih keabadian dalam Cinta
Kau yang mengenalkanku pada cinta yang membebaskan
Kau pula yang menyulut sinarku hingga tegar menyelami rimba hidup
Karena kau adalah sebuah anugrah untuk ribuan bintang di surga
Aku hanyalah bintang kecil yang redup tak bertujuan
Hingga sinarmu datang dalam rangkaian teka-teki takdir-Nya
Sinarmu utuh menerangi hatiku
Namun aku hanyalah bintang kecil di jagat Bumimu
Walau demikian, izinkanlah hati ini untuk mencintaimu
Tidak dengan sederhana namun dengan bijaksana
Cinta yang membebaskan dalam kebijaksanaan
Karena ku tahu….
Kau adalah bintang mimpi terindah yang tak mungkin ku gapai

Bag. 6
Ketika Jiwa dan Hati Bertutur

Ku katakan dengan bisik, ketika jiwa ini berteriak
Melolong keras bak singa yang ingin bebas dari kurungan
Jiwa ini menjerit, bak jeritan mawar ketika tangan kejam mencabut sang bunga dari dahannya
Jiwa ini menangis, airnya menderai turun deras, merah pekat mengalirkan darah kesunyian
Dan… kemudian jiwa ini bertutur….
“aku bosan dengan segala ketiadaan!”
“aku bosan menggenggam harapan!”
“aku pun bosan hanya merengkuh bayang!”
Piluku pun berkata…..
“Aku masih mengasihani diriku, walau yang tersisa hanya luka!”
“ketika jerit ini…luka ini…tangis ini….hanyalah milikku!”
“tidak juga kau, karena kau masih tertawa tanpa merasakan!”
dan suara jiwa ini pun hanya mendesah rintih memadu bisik
“Cukup sampai disini untu semua harap dan mimpi!”
“semua harus mati dan kau kini hanyalah bangkai kenagan yang terkubur jauh di dasar ingatan!”
Karena aku tak rela sinarku redup, hingga sia-sialah ayunan waktu yang berdetak!
Biarlah malam ini berakhir dan langkahku tegap menyongsong terang!
Mungkin hampa lebih baik!!!
Karena….
Aku mencintai diriku dan hari esok….!!!!

Bag 7
SMS

Jika memang SMS mematikan gerak manusia, aroma dan suara. Menghentikan temu kelopak mata, melumatkan kebekuan namun meredupkan keberanian di alam nyata, Lantas… Bagaimana membebaskan diri dari jeruji imajiner dalam ketiadaan yang tidak lebih hanya hiperbola belaka ? Dan disinilah otakku yang telah termutilasi dari barisan kata itu. Aku sakit! Sepertinya……sarafku mencoba menata serpihan puzzle. Dan disinilah aku…terapung di sungai mimpi hingga fajar beranjak, menusuk bawah sadarku…..

Bag 8
Politik Cinta

Disuatu titik hitungan waktu ketika magnum opus
massamenembus batas ruang. Semuanya terhenti. Lalu meledakkan proyeksi yang melintas masuk ke dalam sel-sel otak. Kata-katamu membuat ku tersadar. Aku hanyalah alat politikmu demi libido kuasamu, menancapkan dominasi dalam phalussentris. Ya.. aku hanya alat dan cinta tak hanya permainan namun cinta adalah politik. Politik cinta dimana politik menjadi alat untuk menguasai cinta. Cinta yang hanya dijadikan alat untuk menguasai cinta yang lain. Dan aku muak!!!

Bag 9
Berdiri Ia Mengakhiri

gadis itu kini tersentak
kembali ia ke alam realitas
Dia tahu dia ada, namun dia hanyalah seongok daging tak bermakna
Dia menangis atas kesia-siaan
Tangisnya mengharap hidup
Namun waktu tak jua luluh… terus angkuh mengalir
Bersatu dengan air mata sesal
Dia berteriak :
“ Aku hanya ingin
Ada!!!”
“ Aku hanya ingin hidup!!!”
- indah-
Depok, 2004

No comments: