Thursday, April 7, 2011

Teruntuk mu Hatiku

: Suamiku, Abi Marahendra

Terntuk wajah bening telaga yang selalu menghantarku pada sesuatu yang indah, inginnya ku mengeluh tentang malam-malam di tepian dengan kerinduan padamu yang tak berkesudah. Dan perahuku masih engkau menjaganya, aku pun selalu menangis untuk itu.Kalaulah suatu waktu aku pernah berjanji, “bahkan pada mimpi terburuk pun, tanganku akan selalu menggapaimu” maka sesuangguhnya kaulah yang demikian dan akupu menangis : bersyukur. Kerinduan di malam-malam menghantarkan rasa yang dingin, maka selalu kubiarkan imaji dirimu menghangatkanku, kubiarkan diriku hanyat oleh waktu masa lalu ketika kita baru bertemu, mengenal dan mengikat janji. Aku tidak akan pernah melupakan mata itu : mata yang selalu mencari, dan aku sadar mata itu telah hilang berganti dengan mata yang hangat: matahati di harihariku, kemudian. Malam ini, sungguh, aku tidak berharap akan tepian, daratan atau benua betapapun indahnya, betapapun hijaunya. Aku hanya ingin menjadi makhluk laut mungil yang menghabiskan hidupku mengarungimu, menyelamimu betapapun luasnya dan dalamnya dirmu. Sebab engkaulah denting dawai bening pertama yang mengirim gelombang getaran di sungai kecilku, sebab engkaulah riak gelombang yang menghantarku menyelam ke dasar sadarku mengenal hidup, sebab engkaulah peraduan terhangat dari apapun… I Miss U so Much….

Depok, 7 April 2011
-indah-

“Cinta hanyalah cinta,
hidup dan mati untukmu,
mungkinkah semua tanya,
kau yang jawab
Dan tentang seseorang,
itu pula dirimu,
ku bersumpah akan mencinta” (Ost AADC : Tentang Seseorang, Anda)

Friday, September 17, 2010

Lilin September

Hujan yang turun di bulan September
Meninggalkan jejak pada jalan setapak
Dikelok 1981 ada namamu terpahat sempurna

Betapa tanah jawa telah menyepuh namamu
Dalam penciptaan yang anggun
Ketika Tuhan tersenyum
Hingga tiap lisanmu kata-kata terpatri indah dan damai
Seperti lanskap bukit dan hutan yang teduh memukau

Lalu kucoba menghidupkan 29 lilin di atas jalan setapakyang basah
menuju kota tempat kita bisa saling mengabadikan cinta ..
Hangatnya mengabadikan September yang basah

Dan September semakin hangat dan meriah
Saat karnaval kasih sayang dari handai toulan melewati tapak jalan itu

Saat Senja semburat datang menyepuh awan
Aku masih ingin merapal ingatan sejarahmu
Hingga bumi terjaga dalam kesunyiannya yang magis
Aku tetap ingin merapal ingatan tentangmu

Sekali lagi aku masih ingin mengeja namamu
dengan 29 lilin yang terhampar di sepanjang jalan menuju rumah
Dan rumah, tempat segalanya berasal dan bermuara
Aku menunggumu dengan sebait syukur dan doa

“Selamat ulang tahun, sayang...
Semoga hanya bahagia di sepanjang jalan hidupmu...”


16/09/10
With love
-indah-

Thursday, August 12, 2010

Aku Ingin Menamaimu, Cinta ...

: Abi Marahendra

Aku ingin menamaimu bening wajah telaga
Dengan kata yang tak habis oleh masa
Dengan kalimat yang tak habis oleh makna
Seperti Isyarat sederhana yang disampaikan senja,
Pada awal pertemuan kita

Aku ingin membingkai cahaya
Yang tak pudar oleh kelam,
Dan sanggup hapuskan pekat
Seperti isyarat yang ditunjukkan oleh alam
Di malammalam sesudahnya ...

Dan engkaulah denting dawai bening pertama
Yang mengirim gelombang getaran
Di sungai kecilku

Engkaulah riak gelombang yang menyelam
Ke dasar sadarku
Mengenal hidup

Dan cahaya matamu menuntunku masuk ke dalam damai,
Seperti sebuah peraduan hangat
Dan aku nyaman berada disana...

Barangkali itu cinta,
Ketika getaran bening itu datang
Ketika cahaya matamu mendamaikanku ...

Barangkali itu cinta,
Ketika hanya bening wajah telaga yang hadir
Bahkan kata, kalimat dan sajak
Tak kan pernah sanggup menyelaminya ...

“Pastilah itu Cinta (Nya) ...
Yang punya cukup daya, hasrat,
Kelihaian, kecerdasan dan kebijaksanaan
Untuk menghadirkan
Engkau
Aku
Ruang dan waktu
Dan menjembatani semuanya
Untuk kita memahami Cinta (Nya)"

Karena cinta ada seperti yang telah digariskan,
Jauh sebelum kita ada ...
Dan yang telah digariskan telah hadir,
Jauh sebelum kita lahir
Dari kuasa Cinta (Nya)

8/8/2010
*catatan minggu pagi diatas loteng kosan*
-indah-

Friday, January 9, 2009

Freedom Writers

Freedom Writers*


Jari-jari patahku menari di tengah malam usang
diiringi nada minor,serak dan parau
apakah yang sedang terjadi ?
tiada yang pernah usai menjadi ...
dan sebelum malam menua
sebelum waktu melindap galau
selalu ada ruang menenun mimpi

Depok, 9 Januari 2009
-indah-

*Diambil dari judul film yang juga menginspirasi coretan ini

Thursday, June 5, 2008

Malam & Siang


Malam kehabisan akal
Ia ingin menjadi siang
Lalu pergi mencuri senja
Menyimpannya pada lampu dan bulan

Bulan,
seperti lampu jalanan

Lampu jalanan,
mengubah malam
sedikit seperti siang

Kelam berangsur tersamar
Titiktitik sinar siang sepanjang jalan
Kerjap genit mata senja
menggoda,
di sepanjang tikungan

(Malam yang bodoh ...)

Hingga tiba fajar
Menelan malam
Malam mati
Tanpa sempat mengakui tangisan

050608
-indah-

Wednesday, April 16, 2008

Fragmen Musim Pancaroba



apa yang di persembahkan malam
untuk musim ini ?
adalah harihari kelam
menuju persimpangan pendirian
dan apabila angin bergerak menurut kata hati
tinggallah ia berhembus kering
sebab kemarin,
telah ia letakkan sebuah mimpi
di sembab hari

apa yang di persembahkan angin
dalam semusim ini ?
hanya pengap yang meluruhkan mimpi
di ujung hari
mematikan fungsi gerak nadi
tinggallah diri berwujud sepi

apa yang di persembahkan alam
untuk sebuah musim pancaroba ?
adalah gerak galau yang meracau
di kematian keteraturan ....

jkt,160408
-indah-

Tuesday, January 29, 2008

Menjelang Fajar


malam tertatih bisu
harap redam sesaat
lalu mati seketika

oh,
ada yang hilang disana ?

dia hingar
yang tadi menjelma bimbang
lalu sunyi
hingga tiba di nadi hari

oh...
siapa malam ?
hanya kelam berutang sinar ?

(Bulan...
masih saja mengais bahagia
pada siang ?)

290107
-indah-

Thursday, November 15, 2007

Urban Angel




Berkeliaran merangkai waktu
Sayap terkulai

Satu nafas tersenggal bisu
Menanti ajal kota tua

Jiwa kota tua
Dinanti hening ...

*2007
-indah-

Thursday, November 1, 2007

Prambanan (Roro Jonggrang)



Diammu: Rapuh!

Tubuhmu seluruh

Kau biarkan waktu memakan hidup

Kau yang tua
Luruh
Mati

Keindahanmu adalah puingpuing legenda
yang hidup di museum purba

2007
-indah-

Wednesday, October 31, 2007

Kesah

: Abimanyu

tubuh meretas bibir malam
pelan mengendap desah
lalu luruh di suatu sudut

"telah ku titipkan jiwaku,
dalam tubuhmu
biar ia beriak mencumbu
saat waktu memenjara tubuh"

Menteng,31 Oktober 2007
-indah-