/1/
musim luruh di lembah waktu
meninggalkan satu cerita lusuh
tentang matahari terbenam
dan bulan kesiangan
/2/
kemarin aku mimpi menggigit waktu
hingga waktu gompel, tidak utuh
ternyata itu waktu kamu dalam diriku
yang kini tinggal menunggu luruh
/3/
Menteng, 24 agustus 2007
-indah-
Friday, August 24, 2007
Saturday, August 18, 2007
Merdeka
Hanya euforia tak usai tertawa
Tasbihkan seluruh penghayatan
Merdeka ! serunya
Dengan pekikan hingar
Dan hamburan hujan uang
Merdeka! seru mereka
Berkalikali, beratusratus kali
Dibawah gemerlap lampu tujuhbelasan
Lagilagi pekikan menuai uang
Merdeka ? tanya mereka
Di kolongkolong jembatan
Di rumahrumah berhimpitan
Di pengasingan
Dipelosok pedesaan
Merdeka !
Merdeka ?
Oh euforia ...
Merdeka milik siapa ?
Oh euforia...
Jangan tambahkan luka ...
Menteng, 16 agustus 2007
-indah-
Tasbihkan seluruh penghayatan
Merdeka ! serunya
Dengan pekikan hingar
Dan hamburan hujan uang
Merdeka! seru mereka
Berkalikali, beratusratus kali
Dibawah gemerlap lampu tujuhbelasan
Lagilagi pekikan menuai uang
Merdeka ? tanya mereka
Di kolongkolong jembatan
Di rumahrumah berhimpitan
Di pengasingan
Dipelosok pedesaan
Merdeka !
Merdeka ?
Oh euforia ...
Merdeka milik siapa ?
Oh euforia...
Jangan tambahkan luka ...
Menteng, 16 agustus 2007
-indah-
Friday, July 27, 2007
Aku Ingin
aku ingin sebilah pedang
sekedar membunuh bayangan
yang diisaratkan malammalam
kepada lampu taman lawang
Menteng, 27 juli 2007
-indah-
sekedar membunuh bayangan
yang diisaratkan malammalam
kepada lampu taman lawang
Menteng, 27 juli 2007
-indah-
Tuesday, July 24, 2007
Aku (Masih) Menangisi Malam Terik
aku masih menangisi malam terik
mendekap rengkuh tubuh bumi
diiringi hujan batu bertubitubi
sering ku bertanya,
adakah Tuhan sudi membayar
kucur air mata di sudut bebatuan ?
senyatanya ...
sulit di terka mata manusia
dan kau masih saja bercerita
tentang ksatria pemecah malam,
menculik putri telaga buta ?
(aku masih menangisi malam terik yang membalut pertiwi.
anginnya menyayat kulit hingga terkelupas)
dan kau masih saja bercerita ?
kumohon diam
sebab bercerita, hanya melampaui luka ...
24/07/07
----------------------------------
Dimuat di koran Seputar Indonesia (Sindo)
tanggal 12 Agustus 2007
mendekap rengkuh tubuh bumi
diiringi hujan batu bertubitubi
sering ku bertanya,
adakah Tuhan sudi membayar
kucur air mata di sudut bebatuan ?
senyatanya ...
sulit di terka mata manusia
dan kau masih saja bercerita
tentang ksatria pemecah malam,
menculik putri telaga buta ?
(aku masih menangisi malam terik yang membalut pertiwi.
anginnya menyayat kulit hingga terkelupas)
dan kau masih saja bercerita ?
kumohon diam
sebab bercerita, hanya melampaui luka ...
24/07/07
----------------------------------
Dimuat di koran Seputar Indonesia (Sindo)
tanggal 12 Agustus 2007
Monday, July 23, 2007
Aku Masih Menunggu
Fa,
Aku telah sampai di labirin waktu
Dengan dua pintu lebar
Lumut menjalar di sekelilingnya
Karena suhu membiarkannya sedapat itu
Fa,
Aku masih menunggu
Kau bawa pena itu
Lalu goreskanlah peta ditanganku
Biarkan labirin menemukanku
Menteng, 23 Juli 2007
-indah-
--------------------------------
Dimuat di koran Seputar Indonesia (Sindo)tanggal 12 Agustus 2007
Aku telah sampai di labirin waktu
Dengan dua pintu lebar
Lumut menjalar di sekelilingnya
Karena suhu membiarkannya sedapat itu
Fa,
Aku masih menunggu
Kau bawa pena itu
Lalu goreskanlah peta ditanganku
Biarkan labirin menemukanku
Menteng, 23 Juli 2007
-indah-
--------------------------------
Dimuat di koran Seputar Indonesia (Sindo)tanggal 12 Agustus 2007
Friday, July 20, 2007
Di Sela Waktu
di sela waktu. jarum jam henti berdetak. dimensi tuntun khayal pada titian gelombang pasang. aku terjerembab diatas pasir berdesir perlahan. dihantar angin sunyi pantai suram. nuansa senja menyepuh mega dipaksa temaram. walau hanya tergores sebait. serupa goresan kuas cat tembok basah.
masih ada kepak burung layang di mega utara. kemana dia hendak pergi? arah tentukan pertanda. dan tandatanda akan bermain bersahutan. seperti berita dari penujum yang dibawakan gemuruh handai tolan. dan adanya ia seumpama garis yang mengikuti jalan patahpatah. selalu : cabangcabang membentang pilihan
namun ini waktu terhenti. hanya desir ombak yang mengalun mesra. seperti ingin mengajakku bermain sementara. ada yang datang kembali. ada yang telanjangi hati. namun ini waktu terhenti. hanya gelombang pasang yang datang kemudian. memangku buihbuih rindu bergelombang.
angin memainkan harpa sendu diikat bau anyir punggung pantai. serasa tiada kehendak mainkan lengkingan hingar karena yang ada hanyalah lirih musim angin peraduan
dan disinilah aku. di sela waktu. saat jam henti berdetak.dan dunia tanpa waktu adalah keabadian tanpa harus kehilangan.
Menteng, 20 juli 2007
-indah-
masih ada kepak burung layang di mega utara. kemana dia hendak pergi? arah tentukan pertanda. dan tandatanda akan bermain bersahutan. seperti berita dari penujum yang dibawakan gemuruh handai tolan. dan adanya ia seumpama garis yang mengikuti jalan patahpatah. selalu : cabangcabang membentang pilihan
namun ini waktu terhenti. hanya desir ombak yang mengalun mesra. seperti ingin mengajakku bermain sementara. ada yang datang kembali. ada yang telanjangi hati. namun ini waktu terhenti. hanya gelombang pasang yang datang kemudian. memangku buihbuih rindu bergelombang.
angin memainkan harpa sendu diikat bau anyir punggung pantai. serasa tiada kehendak mainkan lengkingan hingar karena yang ada hanyalah lirih musim angin peraduan
dan disinilah aku. di sela waktu. saat jam henti berdetak.dan dunia tanpa waktu adalah keabadian tanpa harus kehilangan.
Menteng, 20 juli 2007
-indah-
Monday, July 9, 2007
Friksi Jalan Pematang Ilalang
friksi jalan menghantar malam,
pada tepinya yang dingin,
angin mengirim aroma anyir
pun tiada muara asing
pun tiada asa bergeming
terpaku beku
berdiamlah
mimbar doa-dosa-berkarat
oh,pematang ilalang
tercekat pekat
oh,ilalang ungu
tiada berkehendak
apa yang ku tuai
adalah
tiada disini
Menteng, 9 Juli 2007
-indah-
--------------------------------
Dimuat di koran Seputar Indonesia (Sindo)
tanggal 12 Agustus 2007
pada tepinya yang dingin,
angin mengirim aroma anyir
pun tiada muara asing
pun tiada asa bergeming
terpaku beku
berdiamlah
mimbar doa-dosa-berkarat
oh,pematang ilalang
tercekat pekat
oh,ilalang ungu
tiada berkehendak
apa yang ku tuai
adalah
tiada disini
Menteng, 9 Juli 2007
-indah-
--------------------------------
Dimuat di koran Seputar Indonesia (Sindo)
tanggal 12 Agustus 2007
Thursday, June 21, 2007
Rintik Hujan Putusputus di Senarai Siang
apa yang kau ucap pada rintik hujan putusputus bila terdengar di senarai siang
padahal ia janji akan berhenti, jika pelangi ingin menyucikan diri
masih ada kabut legam
berarak ikuti jejak detak
penghujung hari, penujum malam
tatkala pagi buta bertingkah lugu
atau pekat merakit bisu
rintik hujan serupa berlian dari tepi jendela
bening
berkilau
membuatku berkaca
bukan pada kaca yang semakin dusta
kau berkata,
aku sakit ?
tidak sayang,
aku mati !
Menteng, 20 Juni 2007
-indah-
padahal ia janji akan berhenti, jika pelangi ingin menyucikan diri
masih ada kabut legam
berarak ikuti jejak detak
penghujung hari, penujum malam
tatkala pagi buta bertingkah lugu
atau pekat merakit bisu
rintik hujan serupa berlian dari tepi jendela
bening
berkilau
membuatku berkaca
bukan pada kaca yang semakin dusta
kau berkata,
aku sakit ?
tidak sayang,
aku mati !
Menteng, 20 Juni 2007
-indah-
Thursday, June 7, 2007
Lelaki di Lorong Sunyi
Monday, June 4, 2007
L I L I N M E I

: Olin Monteiro
pagi sembab, Mei sedu sedan. o, kau disana menghayati tiap derai dengan 36 lilin beku terhampar. o, kau disana menantang hari yang semakin gamang. dan kau masih disana dengan pena biru melukis Mei muram.
lalu ku coba susun 36 lilin diatas gurat wajah jalan. ada garis tegas menjalar, menjadi anak jalan putus-putus, bercabang. disana terganjal sederet nama dan peristiwa : sebagian membatu, sebagian dikikis angin waktu, sebagian kau rangkai diatas pot warna-warni, manis sekali.
36 lilin ku bakar sedapatnya – angin pancaroba membuat segalanya serba susah - hingga persahabatan hangat terasa.
aku berkata :
”malam pasti datang, tapi ini hari masih pagi. lukisan muram belum kau selesaikan, Mei sungguhlah pucat, menahan perih luka-luka”
kau berhenti sejenak, menaruh pena, lalu mengambil sejumput kapas
sambil berujar lugas :
”Mei harus sembuh total !”
Menteng, 28 Mei 2007
-indah survyana-
Subscribe to:
Posts (Atom)
