Friday, May 25, 2007

MALAM-MALAM UNGU


(1)
bunga bersabda pada ilalang, merapat
”bilakah dunia terhenti ?”
dibiarkannya kumbang berdesing mengitarinya
lalu angin ikut memainkan putik
”Tak ada yang pasti kecuali ketidak pastian”
”Tak ada yang abadi kecuali ketidak abadian”
semua terhenti
bulan pucat pasi
serigala melolong pada langit ungu.
(2)
Malam-malam ungu pada bulan merah jambu
Serasa kontras membisu
Lalu hilang jadi abu
Karena takdir adalah tabu
Untuk bicara tentang haru
(3)
Disana, pengembara melepas pakaian
Disana, di bukit waktu lalu
telanjang, hanya kulit melekat
Ia berkisah pada langit ungu :
”pakaian hanya untaian kapas,
melekat sesakkan nafas,
ternyata telanjang itu bebas
nafas terlepas, tak lagi panas”
(4)
Malam ungu merakit pekat
Tak dibiarkannya kepastian merapat
Sungguh, Hanya meraba yang mereka dapat
Namun,
Badut-badut menyemai sesat
Sebar benih di tanah lamat
Panen sesat sepanjang abad
Hingga malam benar-benar pekat
(5)
Muda-mudi berdiri teguh
Pada langit ungu kelabu
Tangan kuat menggenggam
Sebongkah mimpi yang jadi basi
Entah di telan fantasi surgawi
Atau lelah pada janji-janji pasti
Muda mudi bernyanyi menyalak
Saat gali kubur sendiri
(6)
Dia di singgasana
Mereka yang tertawa
Pesta pora menumpuk laba
Dagang derita semesta
(7)
Malam ungu di tanah berbatu
Tak ada lagi yang melagu
Kecuali lagu-lagu palsu
Yang lain membisu
Lalu berlalu
Sekali lagi berlalu
Ini malam ungu
Setelah senja berlalu
Lalu berlalu
Sekali lagi berlalu
b e r l a l u .............................. ......................................................... haru


Depok’07
-indah-

Bidadari Senja


Bidadari Senja mengupas awan
Dalam bisu, Ia bergumam
”Adakah sebongkah emas dan berlian,
dalam semburat awan menghitam ?”

Depok, 12 Januari’07
-indah-

--------------------------
Dimuat di Bali Post
tanggal 5 Agustus 2007

S H E R L Y

Si Kecil Sherly
Dia memenamai diri
Lahir diatas bumi
Di belahan negeri mati

Ia satu batang lidi
Jalani hari seorang diri
Terinjak tirani kota mati

Suatu ketika di penghujung hari
Perempuan muda mengucap pasti
Pada mimpi kehidupan surgawi
Di pusat kota mati

Sherly menjajikan diri
Pada perempuan muda d kota mati
Ia menjadi anak surgawi
Pada saat matahari berangkat pergi

Janji pertama di penghujung hari
Ketika Ia menjejakkan kaki
Di sebuah wisma berpenghuni
Perempuan muda berkata, ”Ini awal mereguk surgawi”

Disana telah berdiri
Laki-laki muda yang tak Ia kenali
Perempuan muda berlalu, pergi
Tinggal laki-laki muda dan Sherly

Laki-laki muda menyetubuhi Sherly
Sehari tiga kali
Sherly menangis dan merintih
Lantas tak sadarkan diri

Esok terulang kembali
Laki-laki muda kunjungi Sherly
Setubuhi Sherly 3 kali sehari
Sherly melirih, Ia pucat pasi

(malam yang sunyi
Sherly seorang diri
Sepi membuatnya lari
Pada baying laki-laki pagi hari)

Matahari telah bersemi
Laki-laki muda datang lagi
Setubuhi Sherly tiga kali sehari
Sherly menikmati

Hari haru datang menghampiri
Laki-laki muda tak datang lagi
Ia bertanya pada Mami
Kemana laki-laki muda pergi ?

Mami tak menjawab pasti
Sherly bertanya kesana kemari
Jawaban didapati, hatinya tersakiti
Laki-laki muda mencintai laki-laki
Ia dibayar Mami setubuhi Sherly

Mami berjanji memberinya pengganti
Hingga Sherly menikmati surgawi
Mami memberi seribu laki-laki
Sherly harus melayani

Sherly tak mengerti
Mengapa harus menyerahkan diri
Pada laki-laki yang tak Ia kenali
Lama semakin Ia tak mengerti
Hakikat surgawi seperti kata mami

Surga milik laki-laki
Ketika mereka setubuhi Sherly
Surga milik Mami
Ketika mami mendapat rezeki
Dari mereka laki-laki
Setelah mereka setubuhi Sherly

Depok, 12 Januari’06
(catatan kecil yang masih tertinggal di otak setelah membaca Perdagangan Anak Perempuan di Semarang)

-indah-

Nol nol lewat nol Satu (Esok hari eksekusiku)

Nol nol lewat nol Satu
Umurku bertambah Satu
Hidupku berkurang Satu
Itu tidak menggangguku

Nol nol lewat nol Satu
Otakku meracau, banyak benang kusut
“Kau panik”, kata sahabatku

Nol nol lewat nol Satu
Eksekusi tinggal menunggu waktu
Propaganda, Aristotle, American Corner...
Aku lupa itu!
American Ediot,
yang kuingat cuma itu!

Nol nol lewat nol Satu
Semua teori hilang menjauh
Padahal eksekusi tinggal menunggu waktu
Bagaimana aku harus menjelaskan semua itu ?!

Nol nol lewat dua puluh Satu
Eksekusi bisa membuka semua pintu
Eksekusi bisa membunuh hari depanku
Semua ada ditanganku
Tapi, mengapa semua teori hilang dan berlalu?!

Ini tentang aku,
Esok hari eksekusiku.....

Depok, 4 Januari’o7, Pk. 00.31
(Di depan tergeletak 200 halaman skripsiku mirip bantal dimataku)
-indah-

Senyap Suara

Aku bosan berkata
Dalam muara ketidaan, tak bersua
Diam. Jalan saja dengan tenang
Dan dingin mencapai titik beku

Disana tiada gemuruh, hanya detak memecah sunyi
Kemudian senyap karena tadi telah musnah
Kemudian senyap hingga malam-malam berikutnya

Dalam kubah dingin membatu
Di sebongkah bumiku
Danau jadi saksi bisu

Danau UI, 26 Desember 2006
-indah-

Dia, perempuan

Dia, perempuan
mendekap bocah kecil di pangkuan
menggigil di tenda pengungsian
berharap hari depan pada rintik hujan

Dia perempuan
mata lebam, duduk terdiam
disamping tiga asuhan terpejam terkapar
dibalik reruntuhan Libanon selatan

Dia perempuan
menunggu anak dan suami datang
matahari turun, gelap pun datang
dalam cemas dan harapan

Dia perempuan
Hidup untuk kebebasan
lahir tak bertuan tumbuh dengan kesadaran
melawan kemanafikan dalam ketidakberdayaan

Dia perempuan,
Awal semua kehidupan.....
Dia perempuan
Bukan untuk tuan !!!

LabKomJIPUI, 22 Desember’o6
-indah-

Sore di Angkot 41

Aku duduk, diam membisu
Disebuah angkot nomor empat satu
Mendengarkan lagu
Penumpang hanya satu

10 menit berlalu
Angkot berhenti, lalu berlalu
5 orang duduk, berbicara seru
Pakaian mereka putih Abu-abu

Satu orang berkata
Serial Jomblo, Januari tayang perdana
Berkisah 4 orang muda
Mencari cinta remaja

Mereka berbicara
Lagi-lagi tentang cinta
Impian punya pacar segera
Wujudkan kisah cinta
seperti drama-drama remaja

Aku terpaku
Tetap membisu
Lagu jadi tak seru
Hati ikut ngilu

Inilah generasi muda
Ditangan hanya mimpi hampa
Terperangkap dongeng cinta
Tersaji di media-media

Inilah generasi muda
Yang mengganti generasi tua
Otak diisi angan-angan cinta
Dari drama-drama remaja
Adaptasi telenovela dan drama Korea

Mereka lupa, Ada dunia realita
Sejuta bencana, sejuta tetes air mata
Sejuta peristiwa, sejuta derita
Tiada cinta di dunia fana
Sadarlah, itu bukan gosip belaka

Maka menangislah, ketika
Kau tidak dibutuhkan bangsa
Dan menangislah ketika
Kau bukan apa-apa

Depok, 19 Desember 2006
-indah-

PERJALANAN


Ada orang memilih berkendaraan,
Melewati jalan bebas hambatan

Ada orang memilih berkereta,
Melewati terowongan sepi dan gelap

Ada orang memilih pesawat,
Terbang menembus awan putih di angkasa luas

Tetapi aku memilih berjalan,
Menyusuri hutan,
Diatas tapak kecil tak bertuan.

Matahari terbit dan tenggelam
Bunga-bunga liar tumbuh dan bermekaran
Embun jatuh diatas daun kering berguguran
Ilalang membuai kulit tangan

Tidakkah itu indah, sayang ?

Kelak, jika kita bertemu di gubuk peristirahatan
Bersama satu poci teh hangat yang manis,
Akan banyak hal pasti kuceritakan
Akan banyak hal pasti ku kan dengar
Tidak sekedar melepas kerinduan
Jadikan ini teman dalam perjalanan

Depok, 13 Desember’o6, sore hari ketika hujan turun
-Indah Survyana-

Wednesday, May 23, 2007

Pelangi Senja

(1)

Melintasi hari bersamamu
Melihat senja berlukis pelangi
Warna-warni dalam degradasi

Depok, 051206

(2)

Melihat pelangi dibawah senja
Warna-warni dalam degradasi
Latar kemerahan merah, memudar
Kelabu cepat datang, dihantar pekat kemudian
Selesai sudah....

Warna-warni dalam degradasi
Tertinggal dalam sanubari
Menyisakan mimpi-mimpi
Tentang pelangi datang kembali
Tidak pada senja sore hari
Tapi pada pagi hari
Hingga pekat menutup sekali lagi

Aku berkata,
”Aku ingin pelangi !”

Kau berkata,
”Kita pelangi senja”

Depok, 281206

(3)
Hey, Kau Yang Dimabuk Cinta !

(Hey, kau yang dimabuk cinta!
Ilusi menjadi asa
Mengikuti jejak-jejak buta
Saat waktu bersela fanaS
emua hanyalah fatamorgana)
Depok, 061106

(4)
Tanda Tanya

Aku menyerah!
Mencari jawaban teka teki itu
Biar semesta yang menjawabnya
Namun, biar aku menikmati petunjuknya
Jika memang intuisi ada,
Kau pasti mendengarku
Tidak lewat sms, telepon, fax bahkan email
Tetapi lewat hati
Mari bertelepati!

Depok, 101206
(5)

Terlalu Sama

Disini
Kembali terkurung
Oleh kelebat pekat, lekat
Tengadahkan kepala
Pada bintang bersinar ungu
Sejuta tanya
Berpendar hebat tak menentu
Kalkulasi,spekulasi hati
Beda sama dengan cinta
Bagaimana dengan kita ?
Kita terlalu sama!

Depok, 090106,

(6)
Terjaga Insomnia

Hujan cerai hening malam
Kembali aku terjaga
Otak kiri berderik manis
Lagi-lagi tanda tanya
Mengapa kita terlalu sama ?

Kau berkata, ”kita pecundang semesta !”

Depok, 211206

(7)
Sepi

Sia-sia semua lagu yang mengalun
karna tak kutemukan keramaian
Semua berawal dari ada menjadi ketiadaan
Keabadian adalah semu, kala
tirai pertunjukkan menutup

Perempuan muda memandang congkak
Ruang bisu dalam tabung
Akhirnya ia terbangun
lalu menangis seketika

Hening ......

Depok, 161206

----------------------S e l e s a i------------------------

-indah-