Monday, June 4, 2007

SEPI

petang terhirup sepi
kubuka pintu waktu,

(bulir-bulir salju mendesak)

kau berkata :
tutup Pintu !
waktu membuatmu membeku !
berbaringlah bersamaku

perapian menunggu
sebait sajak terbakar sudah


ada hangat mengerjap, berulang
sederhana ....

( sajak membatu,
aku luruh jadi abu )

Menteng, 2 April 2007
-indah-


Petang


ada yang ingin disampaikan angin
dalam desirnya yang dingin
mengajak semua bergerak bersama
makna dibalik irama
bias, lepas, berhamburan
menjadi partikel-partikel tak kasat mata
tarian resah cabik hening
seekor kupu-kupu hitam hinggap di beranda kayu
tergoda tarian angin,
ikut terbang menuju titik dini purnama
awan hitam, mendekat serampangan
setubuhi senja hingga pucat
senja mendesah sejenak, menangis tanpa air mata
tinggallah pengap nyaris berteriak !

(aku menyambut alam dengan asa mengambang.
satu pijar sinar hanya lampu taman di tepi kolam )

Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-

Akhir Puisi Sempurna

puisi Sempurna
terhunus pedang temaram
di ujung gang pelacuran
terkapar
roh melayang
puisi mati penasaran

Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-

Romeo & Juliet


adakah yang diam ?

sebait tipu hayal

menggiring Ia
menegak ramuan puisi janggal

Juliet terkapar
tanpa tahu
Romeo ingkar

Menteng, 30 Maret 2007
-indah-

SEPI

sepi, bagaimana melukiskan kau ?
kau udara,
hadir di setiap nafas waktu
hingga usia terhenti,
kau mati
aku abadi tanpa sepi...


Salemba, 21 Maret 2007
-indah-

(t)RI(s)AK(ti) HAMB(e)AR(at)

themis pergi ke pasar
menawar obat bagi luka berhimpitan
zeus mengetuk palu kehormatan
riak hambar mengalir di persidangan …..

Menteng, 14 Maret 2007
-indah-

Senja di Jakarta

apa yang dijanjikan senja untuk Jakarta ?
membiarkan warganya tua dijalan,
berangkulan asap, debu dan tangisan,
atau bergelimang lampu penasaran ?


(sayup-sayup azan berbisik mesra,
aku, pendo(s)a masih berkeliaran)


Menteng, 13 maret 2007
-indah-

Daun Kering Di Titik Api *

tarian angin, galau, gemulai
menghempas dedaunan kering, terabai
matahari
penuh
mendekap bumi
panas …
lambat, pijar titik-titik api
seperti neraka, kita disana !
entah,
adakah tawa tersisa ?

Satu generasi berharap hujan hapus luka

Menteng, 13 Maret 2007
-indah-
Catatan Kaki :
* Judul diatas dimbil dari judul pertunjukkan teater tanggal 13-14 Maret di Gedung Kesian Jakarta (GKJ) Pertunjukkan ini merupakan hasil kolaborasi UKM Bidang Seni Universitas Indonesia yang terdiri dari Liga Tari, Teater UI, Marching Band, Orkestra Simfoni dan Paduan Suara. Sampai detik ini saya masih terpesona pada Tarian Angin dan Dramatisasi Puisi Sutardji (Tanah Air Mata) yang disajikan semalam dengan luar biasa. Bravo UKM Seni UI !

RINDU

Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu

Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu

Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana

Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jatuh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu

Tak jua nama henti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?

Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca seribu jendela
Sayangnya, kau tak pernah ada

Tinggalah sendiri, aku
Terus mengadu rindu
Hingga berharap pada bintang jatuh
Kian kutunggu tak pernah jatuh

Rindu dimalam itu, Rindu lirih melagu

Depok, 2007
-indah-

L E V I N A

Levina,
Namamu cantik, takdirmu pahit
Mandi air mata kau rupanya
Setelah kemarin kusam, terbakar
Kini kau menyelam


Tangis, luka, terus meraja
Melepas engkau, para kesatria
Disana, mendekap Levina

Menteng, 26 Februari 2007
-indah-